Senin, 23 Maret 2026

Pemahaman yg salah

Pemahaman yang Salah tentang Keyakinan

Jika saya tidak menonton video berdurasi singkat di media sosial, tulisan ini tidak mungkin ada jika hanya membaca teks berita semata. Peristiwa tragis yang terekam video cukuplah sebagai bukti meski verifikasi kebenaran faktualnya harus tetap saya kejar.

Tepat di jantung kota Nabi, Madinah, pada 20 Maret 2026 seorang anak sedang mencekik ayah kandungnya sendiri. Polisi Madinah yang biasa disebut askar berusaha menyelamatkan orang tua yang disebut-sebut dari Indonesia.

Atas peristiwa itu, publik pun terbelah antara mual, marah, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Komen pun takut dosa, apalagi menulis artikel seperti yang saya lakukan ini.

Saya tidak harus merasa berdosa menulis peristiwa yang lebih mengerikan dari sekadar tindakan fisik itu, manakala saya melihat narasi yang memayunginya: sang anak ingin "menolong" ayahnya masuk surga!

Ada sebuah keyakinan liar yang terselip di sana, bahwa mati di Madinah —juga Mekah— adalah tiket VIP menuju firdaus tanpa antre. Maka, demi kasih sayang yang sungsang, leher sang ayah pun menjadi sasaran.

Atas peristiwa itu pula, kita sedang menyaksikan sebuah tragedi di mana iman tidak lagi berjalan beriringan dengan akal, melainkan sedang memukuli akal itu hingga mati suri, bahkan asli mati.

Dahulu, para sufi mengajarkan bahwa jalan menuju Tuhan itu halus, selembut desis angin di padang pasir. Kini, di tangan mereka yang mabuk akan kepastian instan, jalan itu diperpendek dengan kekerasan.

Bagaimana mungkin seseorang bisa meyakini bahwa Tuhan —Dzat yang Maha Rahman dan Rahim— akan membukakan pintu surga bagi seorang ayah yang datang dengan bekas memar di leher akibat ulah darah dagingnya sendiri?

Ini jelas bukan lagi soal keyakinan, ini adalah narsisme spiritual. Seseorang merasa berhak menjadi "panitia surga" hanya karena ia sedang berdiri di atas tanah yang diberkati.

Jika membunuh atau mencelakai orang tua dianggap sebagai "jembatan" menuju rida-Nya, maka kita sebenarnya tidak sedang menyembah Tuhan, melainkan sedang menyembah interpretasi yang sakit tentang Tuhan.

Kasih Sayang yang Mematikan

Kejadian ini, jika benar motifnya adalah mencari surga, menyodorkan sebuah paradoks yang sangat menyakitkan bagi kesadaran kita semua.

Sang anak berusaha mengirim ayahnya ke surga karena ia begitu mencintai ayahnya, namun dengan cara yang justru memastikan bahwa ia sendiri tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di sana.

Ia melakukan perbuatan yang paling dibenci oleh Tuhan (durhaka) untuk mendapatkan sesuatu yang paling dijanjikan oleh Tuhan (surga).

Inilah ironi terbesar dalam beragama: Ketika seseorang merasa sudah begitu dekat dengan Tuhan, ia seringkali lupa bagaimana caranya menjadi manusia seutuhnya.

Meminjam bahasa sufistik, surga yang dikejar dengan mencekik leher ayah sendiri hanyalah sebuah bayangan kosong. Karena Tuhan tidak pernah menunggu kita di ujung tindakan yang kejam, Ia justru sedang menangis di leher ayah yang malang itu.

Pepih Nugraha 

0 Comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India