"Seperti Slilit Yang Menunggu Dibuang"
Dosen asal Amerika Serikat, Prof. Thomas C. Hilde, Ph.D. dari School of Public Policy, University of Maryland, menilai–pembangunan Ibu Kota Nusantara atau IKN adalah proyek ambisius yang sangat dibutuhkan dunia untuk menjawab tantangan masa depan urbanisasi dan perubahan iklim global. IKN adalah "kota pintar dengan konsep hijau".
Ia juga menambahkan bahwa keberanian Indonesia membangun ibu kota baru dengan konsep hijau itu merupakan langkah visioner yang patut menjadi "rujukan internasional".
Saya cuma mau ingatkan bahwa yang berpendapat ini bukan profesor kaleng-kaleng yang bisanya cuma bilang "dungu", serta mereka yang mengaku akademisi, peneliti–tapi kemampuannya cuma menuduh, mengarang bebas, bahkan memfitnah. Bukan. Ini Profesor asli yang punya reputasi dan kredibilitas internasional.
Perhatikan tiga kata kunci yang diucapkannya: "ambisius, nyali, dan visioner". Tanpa bermaksud mengglorifikasi, saya pribadi langsung teringat satu nama kontroversial: Jokowi. Berbekalkan tiga kata (karakter) itulah Jokowi "membangun dan mengeksekusi" IKN. Gagasan yang lahir dari Soekarno itu harus melewati lima presiden, dan baru pada presiden ketujuh–Jokowi–IKN berdiri. Dan muara pengakuan terhadap proyek dahsyat IKN membuat kita ternganga: "menjadi rujukan internasional, serta dibutuhkan dunia" (dalam menjawab tantangan urbanisasi dan perubahan iklim global).
Piye Njul, Panjul? Piye Ci, Panci?
Ternyata IKN bukan sekadar milik bangsa Indonesia, tapi juga "milik" dunia.
Sampai titik ini, saya tersenyum: betapa sia-sianya semua makian, hinaan, fitnahan, pun lawakan satire pada Jokowi selama ini–dibandingkan makna karyanya bagi bangsa dan dunia. Semuanya itu tak lebih dari slilit jorok tak berguna yang menunggu dibuang.
By: HT
Dosen asal Amerika Serikat, Prof. Thomas C. Hilde, Ph.D. dari School of Public Policy, University of Maryland, menilai–pembangunan Ibu Kota Nusantara atau IKN adalah proyek ambisius yang sangat dibutuhkan dunia untuk menjawab tantangan masa depan urbanisasi dan perubahan iklim global. IKN adalah "kota pintar dengan konsep hijau".
Ia juga menambahkan bahwa keberanian Indonesia membangun ibu kota baru dengan konsep hijau itu merupakan langkah visioner yang patut menjadi "rujukan internasional".
Saya cuma mau ingatkan bahwa yang berpendapat ini bukan profesor kaleng-kaleng yang bisanya cuma bilang "dungu", serta mereka yang mengaku akademisi, peneliti–tapi kemampuannya cuma menuduh, mengarang bebas, bahkan memfitnah. Bukan. Ini Profesor asli yang punya reputasi dan kredibilitas internasional.
Perhatikan tiga kata kunci yang diucapkannya: "ambisius, nyali, dan visioner". Tanpa bermaksud mengglorifikasi, saya pribadi langsung teringat satu nama kontroversial: Jokowi. Berbekalkan tiga kata (karakter) itulah Jokowi "membangun dan mengeksekusi" IKN. Gagasan yang lahir dari Soekarno itu harus melewati lima presiden, dan baru pada presiden ketujuh–Jokowi–IKN berdiri. Dan muara pengakuan terhadap proyek dahsyat IKN membuat kita ternganga: "menjadi rujukan internasional, serta dibutuhkan dunia" (dalam menjawab tantangan urbanisasi dan perubahan iklim global).
Piye Njul, Panjul? Piye Ci, Panci?
Ternyata IKN bukan sekadar milik bangsa Indonesia, tapi juga "milik" dunia.
Sampai titik ini, saya tersenyum: betapa sia-sianya semua makian, hinaan, fitnahan, pun lawakan satire pada Jokowi selama ini–dibandingkan makna karyanya bagi bangsa dan dunia. Semuanya itu tak lebih dari slilit jorok tak berguna yang menunggu dibuang.
By: HT



Maret 21, 2026
top
0 Comments:
Posting Komentar