Sabtu, 21 Maret 2026

Foto dari jmg

DRAMA POLITIK BANTENG SOLO

Scene: 1

Narasi: Setelah beberapa petugas elit partai menyampaikan penyesalan luar biasa kepada publik bahwa partainya telah menjadikan tukang kayu berkuasa selama 10 tahun, sang mantan petugas partai yang menjadi sasaran tembak kandang banteng menyiapkan "pidato penyesalan" dari sebuah sudut toko mebel kayu di Solo.

Adegan: Pidato Mantan Petugas Partai

"Terima Kasih Telah Menyesal"

​Saudara-saudaraku, saya berdiri di sini dengan rasa bersalah yang teramat dalam. Sungguh, saya tidak menyangka bahwa pengabdian saya selama dua dekade ini ternyata menjadi beban mental yang begitu berat bagi kalian.

Saya baru menyadarinya hari ini, bahwa menjadi pemenang pemilu dua kali berturut-turut adalah sebuah penghinaan terhadap martabat partai.
​Mohon dimaafkan, karena saya telah lancang menjadi populer.

​Saya tahu, seharusnya saya tetap menjadi pengusaha mebel yang pendiam. Saya minta maaf karena telah gagal menjadi "petugas" yang baik, petugas yang seharusnya duduk manis menunggu instruksi, bukan malah sibuk membangun jalan tol atau membagikan sertifikat tanah hak rakyat.

Saya sadar, pembangunan itu sangatlah tidak ideologis. Seharusnya saya membiarkan rakyat tetap lapar, agar mereka terus berharap pada janji-janji kampanye kalian yang puitis.

​Saya minta maaf karena telah menjadi "gerbong" yang terlalu kencang berlari. Saya paham betapa melelahkannya bagi kalian untuk harus terus-menerus menyesuaikan diri dengan hasil survei saya yang selalu tinggi. Pasti sangat menyiksa harus berpura-pura mencintai saya demi mendapatkan suara di daerah-daerah terpencil, padahal di dalam hati, kalian mungkin ingin sekali mendepak saya sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di Jakarta.

​Saya juga memohon ampun karena telah membuat kalian terlihat "berkuasa". Saya tahu, kalian sebenarnya lebih nyaman menjadi oposisi yang berteriak-teriak di jalanan sambil menangis haru membela rakyat kecil. Kekuasaan yang saya berikan lewat kemenangan pemilu ini pasti telah merusak kenyamanan kalian dalam melankolia perjuangan.

​Kalian bilang kalian membesarkan saya? Oh, tentu saja. Kalian sangat berjasa dalam membiarkan saya "meminjamkan" wajah saya untuk poster-poster caleg kalian yang bahkan namanya tidak dikenal oleh tetangganya sendiri.

Saya minta maaf karena wajah saya di baliho-baliho itu ternyata lebih efektif daripada tumpukan buku teori politik yang kalian banggakan.

​Sekarang, mumpung kalian sudah meminta maaf kepada publik karena pernah mendukung saya, mari kita tuntaskan sandiwara ini dengan elegan: ​

Silakan ambil kembali semua kemenangan yang "tidak sengaja" kita raih bersama ini.

​Silakan hapus semua pertumbuhan ekonomi yang menurut kalian adalah "kesalahan sejarah".

​Kembalilah menjadi suci dalam kekalahan, karena tampaknya menjadi pemenang bersama saya adalah noda hitam yang tak termaafkan.

Terima kasih telah menyesal. Setidaknya, sekarang saya tahu bahwa di politik, "terima kasih" adalah kata yang terlalu mahal, sementara "permintaan maaf" adalah alat tukar yang paling murah ketika kepentingan mulai berbeda arah.

​Saya akan pergi dengan satu beban di pundak: beban karena telah membuat kalian terlalu lama berkuasa.

(Bersambung)

Pepih Nugraha 

0 Comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India