Politbiro PKI, Njoto, dan G30S
Oleh: John Roosa SELAMA 32 tahun berkuasa, rezim Soeharto menggunakan segala macam prop…
Oleh: John Roosa SELAMA 32 tahun berkuasa, rezim Soeharto menggunakan segala macam prop…
PEREMPUAN berambut putih dengan kulit keriput itu terdiam. Matanya menerawang. Ini hari…
SIDANG otokritik di kantor Harian Rakjat itu masih lekat di ingatan Amarzan Ismail Hami…
JARAK Yogyakarta-Solo dilipat oleh Njoto dengan surat-surat panjang, lengkap dengan ber…
CINCIN emas itu masih melingkar di jari manisnya yang telah keriput. Di sisi dalam ling…
Pertengahan 1963. Di rumahnya di Jalan Malang, Jakarta, Soetarni, ibu lima anak yang ke…
DERING telepon terdengar di tengah pesta ulang tahun Umila, 1 Oktober 1965. Tari, sang …
ILHAM Dayawan masih mengingat belasan tentara yang membawa ibunya, Soetarni, empat pulu…
SUASANA Jakarta mencekam pada hari itu, 2 Oktober 1965. Dua hari sudah lewat setelah pe…
SUNGGUHPUN Harian Rakjat (HR) lekat dengan nama Njoto, ia bukan pendiri corong resmi Pa…
DI Istana Tampaksiring, Bali, Presiden Soekarno tampak gelisah. Njoto, menteri negara y…
JOESOEF Isak mengetahui rahasia sahabatnya, Njoto, dari sumber tak terduga. Ketika itu,…
BOGOR, 6 Oktober 1965. Hampir sepekan setelah peristiwa penculikan enam jenderal Tentar…
KARL Marx, Stalin, Lenin. Nama nama itu akrab sejak Njoto belia. Buku buku karya tokoh …