Sabtu, 21 Maret 2026

Foto dari Marsello Ginting

𝐑𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐉𝐨𝐤𝐨𝐰𝐢 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐒𝐞𝐩𝐢, 𝐌𝐚𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐁𝐞𝐬𝐚𝐫

Rumah Jokowi di Solo itu sederhana. Tidak luas. Tidak tinggi. Tidak berkilau. Tapi tidak pernah sepi. Ini membuat banyak orang gelisah. Terutama mereka yang rumahnya besar, pagarnya tinggi, dan jabatannya dulu panjang, namun kini sepi seperti ruang rapat tanpa anggaran.

Sejak Jokowi tidak lagi presiden, justru orang semakin sering datang. Aneh, kata lawan-lawannya. Dalam logika mereka, kekuasaan itu seperti lampu: mati, ya gelap. Maka, ketika lampu padam tapi orang masih datang, mereka curiga ada genset tersembunyi.

Ternyata alasannya sederhana. Jokowi kini dipandang sebagai orang tua. Tempat bertanya. Tempat sowan. Dalam budaya Jawa, orang tua tidak perlu undangan. Tidak perlu protokol. Cukup reputasi hidup yang konsisten. Ini yang sering dilupakan oleh para politisi yang kariernya dibangun dari baliho, bukan perilaku.

Para penentang Jokowi sibuk menghitung. Siapa yang datang, dari partai mana, naik mobil apa, bawa apa. Mereka lupa satu hal kecil: orang datang karena mau, bukan karena disuruh. Hal yang tampaknya remeh, tapi sangat mahal di dunia politik.

Di sosial media, muncul tuduhan-tuduhan kreatif. Jokowi dibilang cawe-cawe. Dibilang presiden bayangan. Dibilang dalang. Tuduhan itu seperti wayang tanpa lakon, ramai bunyi, miskin makna. Sebab yang mereka lihat hanyalah rumah yang ramai, bukan alasan mengapa orang masih percaya.

Lawan-lawan Jokowi tampaknya tidak siap menerima fakta pahit. Ada orang yang tetap relevan tanpa jabatan. Tanpa panggung. Tanpa mikrofon. Mereka sendiri sudah mencoba semua itu, lengkap dengan tim media, konsultan, dan narasi. Hasilnya tetap sepi. Bukan di rumah. Di hati publik.

Rumah Jokowi tidak mewah. Tapi dianggap merakyat. Bukan karena desain arsitektur. Melainkan karena pemiliknya tidak pernah memutus hubungan dengan rakyat. Jokowi tidak mengurung diri di balik nostalgia kekuasaan. Ia tidak menulis memoar setebal ensiklopedia. Ia duduk. Menerima tamu. Mendengar.

Ini membuat lawan-lawannya salah fokus. Mereka menyerang rumahnya. Mengukur keramaiannya. Mencurigai tamunya. Padahal masalahnya bukan di Solo. Masalahnya ada di diri mereka sendiri. Mengapa setelah lengser, tidak ada yang datang?

Jawabannya sederhana. Dan itu yang paling menyakitkan. Karena selama berkuasa, mereka sibuk merasa penting. Jokowi sibuk membuat orang merasa diperhatikan. Mereka terbiasa ramai karena jabatan. Jokowi ramai meski tanpa jabatan.

Maka rumah Jokowi itu terus didatangi. Dan terus dibicarakan. Bukan karena rumahnya istimewa. Melainkan karena pemiliknya tidak berubah saat tak lagi istimewa. Dan bagi sebagian orang, itu justru yang paling sulit dimaafkan dan menjadi masalah besar.

Mari seruput kopi
Asaaro Lahagu 

0 Comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India