Sabtu, 21 Maret 2026

Foto dari jmg

ANTARA MARCO RUBIO DAN JOKO WIDODO

Oleh Supriyanto Martosuwito

Satu pernyataan dari pejabat teras, mantan senator Amerika menjadi kontroversial, di hari hari ini:  "The only reason we're at war with Iran is because Israel forced our hand" yang artinya: "Satu-satunya alasan kita berperang dengan Iran adalah karena Israel memaksa kita."

Pernyataan yang disampaikan Marco Rubio, selaku Menteri Luar Negeri AS ke-72 itu mengirim pesan gamblang bahwa AS terlibat dalam perang dengan Iran bukan semata-mata karena kepentingan Amerika dan ancaman langsung Iran, melainkan karena kelakuan tengil "anak emas"nya, Israel -  yang membuat Amerika merasa terpaksa masuk ke pusaran konflik tersebut.

Kalimat jujur dan spontan dari mantan Senator Florida itu bukan sekadar pernyataan diplomatik. Ia terdengar seperti pengakuan yang terlalu lugu tentang bagaimana sebuah perang bisa terjadi: bukan semata karena ancaman langsung kepada satu negeri, melainkan karena tekanan aliansi.

Bagi para kritikus, frasa "forced our hand" mengandung makna politis yang dalam. Sungguh langka - dalam bahasa diplomasi - negara besar  mengakui bahwa mereka "terpaksa" bertindak karena ulah negara sekutunya. Biasanya, alasan yang dikemukakan untuk menyerang negara lain adalah "melindungi kepentingan nasional", "membela diri", atau "menjaga stabilitas kawasan".

Pernyataan Marco Rubio, 54, memberi kesan bahwa keputusan Washington untuk terlibat dalam konflik dengan Iran karena eskalasi yang diciptakan oleh Israel.

Di sanalah kontroversinya.

Bagi pengamat hubungan Amerika Israel, khususnya di sini, pernyataan tersebut makin menegaskan asumsi dan perdebatan lama: seberapa independen kebijakan luar negeri Amerika dari sekutu strategisnya?

Hubungan Washington – Tel Aviv memang telah lama bersifat istimewa, didasari kepentingan keamanan, politik domestik, hingga faktor historis.  Namun ketika seorang pejabat tinggi menyatakan bahwa perang terjadi karena sekutu "memaksa keadaan", publik pun bertanya: apakah ini perang pilihan atau perang kebutuhan?

Dari sudut pandang politik domestik Amerika, pernyataan Rubio juga tidak bisa dilepaskan dari konstelasi internal. Basis politik Partai Republik, partai dimana dia berpolitik -  secara tradisional kuat mendukung Israel.

Dalam konteks itu, berdiri tegak di belakang Israel bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga soal konsolidasi politik dalam negeri. Namun justru di sinilah kritik mengeras: apakah kebijakan militer negara adidaya boleh dipengaruhi oleh tekanan aliansi dan kalkulasi politik domestik?

Jika AS menyerang karena memperkirakan Iran akan membalas tindakan Israel, maka serangan itu bukan respons atas serangan nyata, melainkan atas proyeksi kemungkinan. Dalam teori hubungan internasional, ini mendekati konsep "preventive war" - perang pencegahan.

Sejarah menunjukkan bahwa perang jenis ini sering meninggalkan kontroversi panjang, terutama jika ancaman yang dijadikan dasar ternyata tidak sejelas yang diperkirakan.

BAGI pembaca Indonesia, perdebatan topik ini memiliki resonansi tersendiri. Sejak awal kemerdekaan, Indonesia menganut politik luar negeri "bebas aktif" - tidak terikat blok kekuatan besar mana pun, tetapi tetap aktif berkontribusi pada perdamaian dunia.

Dalam berbagai kesempatan, termasuk pada masa Presiden Joko Widodo memerintah -  Indonesia berhasil menjaga keseimbangan dengan berbagai kekuatan global, bahkan ketika mereka saling berseberangan. Berkawan dekat dengan para pemimpin negara negara di belahan Benua Utara - juga berkarib dengan pemimpin negara negara di Benua Selatan

Di tengah rivalitas kekuatan besar, kemampuan menjaga jarak strategis sering kali menjadi aset berharga. Aliansi dapat memperkuat pertahanan, tetapi juga membawa risiko terseret dalam konflik yang bukan sepenuhnya kita pilih.

Kontroversi ucapan Rubio akhirnya bukan hanya tentang satu kalimat. Ia adalah refleksi tentang bagaimana keputusan perang diambil di era modern: di antara kalkulasi ancaman, tekanan aliansi, kepentingan domestik, dan persepsi publik global.

Dan di situlah, bagi pembaca Indonesia, pelajaran geopolitik yang paling relevan mungkin justru terletak.

Bahwa untuk menjaga independensi, berjiwa non blok, memang memerlukan kelihaian politik tersendiri, dari sosok negarawan yang teruji dan tangguh. Bukan kaleng kaleng.

***

PS:

Sedih mendengar penolakan Menlu Iran : "Jalur diplomasi sudah terlambat".

Sedangkan dari pihak Israel:  "Sebaiknya Indonesia tidak terlibat terlalu dalam. Orang orang kami ada di dekat Anda!" 

0 Comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India