Sabtu, 21 Maret 2026

Foto dari Marsello Ginting

SUARA HATI NETIZEN SUMATERA‼️
80 tahun Indonesia merdeka, tanpa kepemimpinan Bapak Joko Widodo, jangan mimpi Sumatera punya jalan tol seperti sekarang.
Perjalanan Bakauheni–Palembang (394 km) kini cukup 4–5 jam, yang dulu bisa tembus 15 jam lewat jalur lintas timur.
Tol terus tersambung, bandara dan pelabuhan makin tertata, pelayanan publik dan kesehatan makin terasa nyata. Semua dicapai dalam waktu singkat.

Buat yang hobinya nyinyir dan mencela, coba lebih sering jalan-jalan dan membaca.
Ayo, belajar bersyukur!

#SuaraHatiSumatera #Jokowi
#JokowiMembangun #TolSumatera #InfrastrukturIndonesia #IndonesiaMaju
#KerjaNyata #BuktiBukanJanji #AyoBersyukur 

Foto dari Marsello Ginting

KNP MULYONO MENANG TERUS
Jokowi itu bnyak dimusuhin politisi itu bukan krn dia berpolitik, tapi krn dia menang terus.

Knp cm Jokowi yg dipersoalkan klo anaknya jadi walikota, jadi wapres, menantu jd walkot, kemudian gubernur,  ditambah kini bungsunya pun didapuk jd ketum partai pdhl ketiganya cm  memiliki jejak rekam pendek sbg politisi?

Itu semua gara2 ayahnya memiliki reputasi, jejak rekam, kredibilitas, dan integritas yg baik di mata masyarakat umum. Pembencinya cm rame di medsos & media elektonik.

Semua mantan2 Presiden berpolitik, knp cuma sy yg dipermasalahkan? Begitu mgkn pikir Jokowi.

Karena kamu menang terus, pakde! Mulai dari ngusung diri sendiri jd walikota(2x), gubernur, presiden(2x) gak pernah kalah. Ngendors menantu jd walkot dan Guberrnur serta  anak juga menang. Dukung Prabowo yg selalu kalah sblmnya dlm pilpres, akhirnya jg bs menang.

"Lu jago banget", pikir kebanyakan org. "

Bukan, dia curang dia bla bla bla....", buat sebagian dari mrk yg denial sm fakta.

Jadi kita jangan jg nyalahin Jokowi dgn naik kelasnya Bobby & Gibran, apalagi dgn membandingkan keduanya dgn anak-anak mantan Presiden yg lain.

Masalahnya, yg dialami oleh Megawati & SBY misalnya, "citra" orang tuanya tidak cukup kuat utk mengangkat pamor anak2nya. Siapa yg mau mengusung Puan menjadi Gubernur, Walikota, atau Bupati? Kan gak ada. Bisa jadi karena Puannya gak mau atau memang takut kalah krn yg memilih kan rakyat lewat pilkada langsung. Tp klo menurutku, Puannya yg memang gak mau klo level pilkada.

AHY? Pernah kan dicoba diusung jd Cagub DKI di pilkada 2017, dan hasilnya cm dapet 17% suara warga Jakarta.

AHY gak mau nyoba2 bertarung di level walikota atau kabupaten, gengsi mungkin pikirnya. Maunya gub DKI atau langsung jd menteri, spt jalan politik yg diambil oleh Puan.

Sekarang keduanya menteri, prestasi atau terobosan apa yg dilakukan keduanya selaku menteri yg dinget publik? Gak ada. Kementriannya apa aja mesti liat google dulu baru inget.

Jadi klo mrk kemudian diusung koalisi partai utk maju sbg capres & cawapres di 2029, kinerja apa yg bakal dikerek timsesnya utk menaikkan brandingnya?

Sementara Gibran kita tau sama2 melompat menjadi wapres Prabowo - dan menjadikan posisi tsb sbg tempat "magang" dirinya utk belajar mengatasi persoalan2 negeri ini. Gibran beruntung memiliki mentor yg juga ayahnya yg bisa memberikan gambaran utuh mengenai semua permasalahan termasuk segala resistensinya ketika menjabat sebagai wakil presiden, termasuk jg di dlmnya belajar gmn hrs bersikap ketika dihujani hoax & fitnah oleh masyarakat yg terprovokasi gorengan politisi.

Di situ kelebihan Jokowi dibanding SBY dan Megawati karena memiliki rekam jejak yg baik selama 2 periode. Banyak yg protes, tp jauh lebih banyak yg mengakui prestasinya.

Itu sebabnya "legitimasi, reputasi, dan kredibilitas" sosok Jokowi harus dihancurkan. Caranya? Melempar isu2 DFK sebanyak2nya, bikin framing seolah Jokowi adalah sosok yg rakus & tamak jabatan, tidak bisa dipercaya kata2nya, termasuk di dalamnya isu ijazah palsu, pembohong, mencla mencle, belagu, dll yg sayangnya, isu2 tsb justru berkebalikan dgn faktanya.

Itu yg membuat masyarakat kebanyakan justru makin bersimpati.

Gue nulis spt ini pasti dituduh "Kamu termul ya? Dibayar berapa kamu nulis spt ini? Knp fans Jokowi selalu bodoh? Dsb dsb.

Mrk lupa gak semua org mengatakan apa yg dipikirkan selalu harus mendapat imbalan spt  diri mrk - yg utk berangkat demo aja mesti nunggu uang transport & konsumsi.

* Gunadi ✍️ 

Foto dari jmg

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengungkapkan, pengesahan Rancangan Undang-Undangan (RUU) Perampasan Aset sangat mendesak untuk disahkan oleh dewan legislatif.
Ia mengatakan, ini karena potensi kerugian negara akibat korupsi sejauh ini sebagian kecil kembali ke negara, sisanya menguap begitu saja dan bahkan masih bisa dinikmati oleh para koruptor.

"Oleh sebab itu, mari bersama kita kawal proses ini agar apa yang menjadi kekayaan dan aset negara dapat kembali kepada negara dan sepenuhnya bisa digunakan bagi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat tanpa adanya penyalahgunaan kewenangan," kata Girbran melalui akun instragram, dikutip Jumat (13/2/2026).

Gibran mengatakan, korupsi merupakan fenomena yang menjadi hambatan terbesar dalam kemajuan pembangunan, serta kejahatan luar biasa yang tidak hanya menghambat pertumbuhan ekonomi tapi juga menciptakan ketidakpastian iklim investasi, menurunkan kualitas layanan publik dan lebih berat lagi merugikan masyarakat secara luas.

"Kita semua harus menyadari bahwa anggaran negara, anggaran daerah yang berasal dari pajak yang dibayar oleh masyarakat Indonesia harus dipergunakan setiap rupiahnya untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat," tuturnya.

Mengutip data Indonesia Corruption Watch (ICW), Gibran mengatakan, selama periode 2013-2022, potensi kerugian negara akibat korupsi mencapai Rp 238 triliun.

Sementara itu, berdasarkan kasus yang ditangani kejaksaan, potensi kerugian negara akibat korupsi pada 2024 mencapai Rp 310 triliun. Namun sayangnya hanya Rp 1,6 triliun yang ia sebut mampu dikembalikan kekas negara.

"Artinya, pengembalian aset negara yang dikorupsi sangat sulit untuk dilakukan dan lebih dari 90% menguap begitu saja. Bahkan justru tetap bisa dinikmati oleh pelaku dan kerabat pelaku," tegas Gibran.

Gibran mengakui, penyimpangan ini tidak hanya terjadi di satu, dua, atau segelintir negara saja Tapi hampir semua negara mengalaminya. Namun, ia menganggap respon dari masing-masing negara lah yang menjadi penentu keberhasilan pemberantasan korupsi.

"Apalagi di era seperti sekarang ini, di mana kejahatan semakin terorganisir, bersifat lintas batas, dan melibatkan teknologi terkini. Sehingga aset-aset hasil korupsi bisa digelapkan, bisa dilakukan pencucian yang mengakibatkan aset-aset tersebut sulit terlacak dan terdeteksi," tegasnya.

Sumber: CNBC Indonesia 

Foto dari Marsello Ginting

𝐑𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐉𝐨𝐤𝐨𝐰𝐢 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐒𝐞𝐩𝐢, 𝐌𝐚𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐁𝐞𝐬𝐚𝐫

Rumah Jokowi di Solo itu sederhana. Tidak luas. Tidak tinggi. Tidak berkilau. Tapi tidak pernah sepi. Ini membuat banyak orang gelisah. Terutama mereka yang rumahnya besar, pagarnya tinggi, dan jabatannya dulu panjang, namun kini sepi seperti ruang rapat tanpa anggaran.

Sejak Jokowi tidak lagi presiden, justru orang semakin sering datang. Aneh, kata lawan-lawannya. Dalam logika mereka, kekuasaan itu seperti lampu: mati, ya gelap. Maka, ketika lampu padam tapi orang masih datang, mereka curiga ada genset tersembunyi.

Ternyata alasannya sederhana. Jokowi kini dipandang sebagai orang tua. Tempat bertanya. Tempat sowan. Dalam budaya Jawa, orang tua tidak perlu undangan. Tidak perlu protokol. Cukup reputasi hidup yang konsisten. Ini yang sering dilupakan oleh para politisi yang kariernya dibangun dari baliho, bukan perilaku.

Para penentang Jokowi sibuk menghitung. Siapa yang datang, dari partai mana, naik mobil apa, bawa apa. Mereka lupa satu hal kecil: orang datang karena mau, bukan karena disuruh. Hal yang tampaknya remeh, tapi sangat mahal di dunia politik.

Di sosial media, muncul tuduhan-tuduhan kreatif. Jokowi dibilang cawe-cawe. Dibilang presiden bayangan. Dibilang dalang. Tuduhan itu seperti wayang tanpa lakon, ramai bunyi, miskin makna. Sebab yang mereka lihat hanyalah rumah yang ramai, bukan alasan mengapa orang masih percaya.

Lawan-lawan Jokowi tampaknya tidak siap menerima fakta pahit. Ada orang yang tetap relevan tanpa jabatan. Tanpa panggung. Tanpa mikrofon. Mereka sendiri sudah mencoba semua itu, lengkap dengan tim media, konsultan, dan narasi. Hasilnya tetap sepi. Bukan di rumah. Di hati publik.

Rumah Jokowi tidak mewah. Tapi dianggap merakyat. Bukan karena desain arsitektur. Melainkan karena pemiliknya tidak pernah memutus hubungan dengan rakyat. Jokowi tidak mengurung diri di balik nostalgia kekuasaan. Ia tidak menulis memoar setebal ensiklopedia. Ia duduk. Menerima tamu. Mendengar.

Ini membuat lawan-lawannya salah fokus. Mereka menyerang rumahnya. Mengukur keramaiannya. Mencurigai tamunya. Padahal masalahnya bukan di Solo. Masalahnya ada di diri mereka sendiri. Mengapa setelah lengser, tidak ada yang datang?

Jawabannya sederhana. Dan itu yang paling menyakitkan. Karena selama berkuasa, mereka sibuk merasa penting. Jokowi sibuk membuat orang merasa diperhatikan. Mereka terbiasa ramai karena jabatan. Jokowi ramai meski tanpa jabatan.

Maka rumah Jokowi itu terus didatangi. Dan terus dibicarakan. Bukan karena rumahnya istimewa. Melainkan karena pemiliknya tidak berubah saat tak lagi istimewa. Dan bagi sebagian orang, itu justru yang paling sulit dimaafkan dan menjadi masalah besar.

Mari seruput kopi
Asaaro Lahagu 

Foto dari Marsello Ginting

MAGNUM OPUS: SIMFONI SANG ARSITEK DAN RESTORASI MARWAH NUSANTARA

Di panggung besar bernama Indonesia, sejarah tidak pernah benar-benar mati; ia hanya menunggu tangan yang tepat untuk membasuh lukanya. Inilah lakon tentang rekonsiliasi agung yang dirajut oleh sang "Pahlawan Super" melalui diplomasi budi yang tak kasat mata.

SATIRE DIGITAL: ANTARA PAHLAWAN DAN SANG "SUPER"

Drama ini memuncak pada September 2024, saat cendekiawan Ainun Najib melemparkan sebuah metafora politik yang menggetarkan pilar-pilar narasi nasional melalui akun X pribadinya:

"Jika Presiden Soeharto menjadi Pahlawan Nasional, maka Presiden Joko Widodo harus menjadi Pahlawan Super Nasional."

PERSPEKTIF PUBLIK: Statemen ini ditafsirkan sebagai pengakuan atas kemampuan luar biasa Jokowi dalam menjinakkan badai politik yang membeku selama puluhan tahun. Ia dianggap memiliki "kekuatan super" untuk merangkul lawan yang paling keras dan mengatur ulang papan catur sejarah yang sebelumnya macet di titik trauma Reformasi.

PENEBUSAN YURIDIS: DETIK-DETIK PEMBERSIHAN NAMA

Titik balik bagi keluarga Cendana terjadi pada 24 September 2024. Dalam sebuah langkah konstitusional yang bersejarah, MPR RI secara resmi mencabut nama Presiden Soeharto dari TAP MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang penyelenggara negara yang bersih dan bebas KKN.

PERSPEKTIF PUBLIK: Langkah ini dipandang sebagai bentuk "pembersihan" hambatan yuridis yang selama ini mengunci nama Soeharto dalam stigma negatif. Secara politis, ini adalah jasa besar pemerintahan Jokowi yang membuka gerbang kehormatan bagi Soeharto untuk diusulkan sebagai Pahlawan Nasional—sebuah langkah yang bahkan tidak berani diambil oleh para presiden sebelumnya. Keluarga Cendana kini memiliki hutang budi sejarah kepada sosok Jokowi.

ESTAFET MARWAH: TRANSFORMASI LIMA DEKADE SANG JENDERAL

Di tengah pusaran itu, berdiri Prabowo Subianto. Selama dua dekade, ia mengarungi samudera pemilihan presiden dengan beban sejarah yang tidak ringan. Lima kali ia mencoba, dan di percobaan kelima, takdir menjemputnya melalui tangan sang "Arsitek".

🇲🇨 23 OKTOBER 2019: GERBANG REKONSILIASI. Di Istana Negara, Jokowi mengambil langkah yang mengubah arah sejarah dengan melantik Prabowo Subianto sebagai MENTERI PERTAHANAN. Ini adalah momen di mana rivalitas berubah menjadi sinergi, dan marwah sang Jenderal mulai dipugar melalui pengabdian nyata di dalam kabinet.

🇲🇨 28 FEBRUARI 2024: PUNCAK KEHORMATAN. Di Mabes TNI, Jokowi menyematkan pangkat JENDERAL TNI KEHORMATAN (HOR) berbintang empat ke pundak Prabowo. Ini adalah simbol kembalinya kehormatan sang prajurit ke titik tertinggi setelah perjalanan panjang yang penuh ujian.

🇲🇨 RESTU KEBERLANJUTAN. Dukungan Jokowi bukan sekadar soal suara, melainkan sebuah "pemutihan" reputasi secara nasional yang memungkinkan Prabowo melangkah ringan menuju kursi kepresidenan.

PERSPEKTIF PUBLIK: Masyarakat melihat fenomena ini sebagai bentuk kedewasaan politik. Dimulai dari kursi Menhan hingga pangkat Bintang Empat, Prabowo tidak lagi dipandang sebagai representasi masa lalu yang kaku, melainkan sebagai sosok "Pelanjut Mandat" yang teduh, yang marwahnya telah direstorasi total oleh sang "Pahlawan Super".

EPILOG: LINGKARAN TAKDIR YANG SEMPURNA 🇲🇨♥️

Kini, sejarah mencatat pemandangan unik di mana tiga lini masa bertemu dalam satu harmoni:

🇲🇨 SOEHARTO (MASA LALU): Menuju kehormatan tertinggi sebagai Pahlawan Nasional berkat "normalisasi" sejarah di era Jokowi.

🇲🇨 JOKOWI (MASA KINI): Arsitek rekonsiliasi yang menjahit kembali potongan-potongan bangsa yang terpisah.

🇲🇨 PRABOWO (MASA DEPAN): Sang Pewaris yang duduk di kursi tertinggi dengan martabat yang telah dipulihkan secara paripurna.

PERSPEKTIF PUBLIK: Analisis akhir menunjukkan adanya sebuah "politik budi" tingkat tinggi. Keluarga Cendana dan Prabowo berdiri di puncak hari ini dengan menyadari bahwa di balik pulihnya kehormatan mereka, ada sosok Jokowi yang secara strategis "pasang badan" untuk menghapus residu masa lalu di hadapan hukum dan rakyat.

SEBUAH SIMFONI KEBERLANJUTAN. BUKTI BAHWA DI TANGAN PEMIMPIN YANG MEMILIKI VISI REKONSILIASI, DENDAM SEJARAH BISA DIUBAH MENJADI PENGABDIAN, DAN LUKA LAMA BISA DIUBAH MENJADI KEKUATAN BARU BAGI BANGSA. ♥️♥️🇲🇨🇲🇨

✍️  Lentera Merah Putih

#MagnumOpusNusantara #SimfoniSangArsitek #RestorasiMarwah #JokowiPahlawanSuper #PrabowoPresiden8 #CendanaHutangBudi #RekonsiliasiNasional #LenteraMerahPutih #Jokowi #PrabowoSubianto #Soeharto #AinunNajib #JenderalBintang4 #MenhanKePresiden #LegacyJokowi #PrabowoGibran 

Sihir Solo

"Sihir Solo", Pensiunan yang Menjadi Horor Politik

Ada pemandangan yang tak lazim di kota Solo. Biasanya, seorang mantan pejabat yang sudah purna tugas akan menikmati masa sepuhnya dengan tenang, ongkang-ongkang untuk melakoni "slow living".

Kegiatan pensiun tidak jauh-jauh dari berkebun, menimang cucu, melukis atau sesekali menulis memoar yang belum tentu habis dibaca orang.

Tapi tidak dengan pria pensiunan yang biasa dipanggil Jokowi ini!

Rumahnya tidak pernah sepi. Rakyat berbondong-bondong datang, bukan untuk menagih janji kampanye (karena masa tugasnya sudah usai), melainkan sekadar ingin bersalaman atau memastikan bahwa sosok yang mereka cintai itu masih ada di sana.

Fenomena ini, dalam kacamata sosiologi politik, sebenarnya adalah sebuah anomali yang menyakitkan. Ini semacam ritual harian yang membingungkan. Rumahnya bahkan dijadikan destinasi wisata non-politik. Rakyat hanya ingin berkunjung saja.

Bagi para kritikus garis keras —sebut saja Roy Suryo dan kawan-kawan yang sangat rajin membedah metadata hingga "kulit luar"—kerumunan ini pasti dianggap sebagai sebuah desain vulgar. Sebuah settingan telanjang.

Namun, mari kita gunakan logika sederhana sembari ngabuburit menunggu buka puasa: Jika ini adalah bayaran, berapa triliun rupiah harus dikeluarkan untuk menjaga "antusiasme" warga setiap jam, setiap hari?

Jika ini adalah film, siapa sutradara yang sanggup mengarahkan emosi ribuan orang dengan begitu natural tanpa ada satu pun yang bocor memberikan testimoni "saya dibayar nasi bungkus", misalnya?

Kenyataannya, menggerakkan massa dengan uang itu mudah, tapi menggerakkan hati itu perkara lain.

Inilah yang membuat lawan politik Jokowi sulit tidur nyenyak. Mereka panik. Mencari jalan untuk mencekik tanpa memekik.

Mengapa serangan kepada Jokowi dan Gibran anaknya belakangan ini makin masif, bahkan cenderung personal dan menyerang martabat?

Jawabannya sederhana: Ketakutan!

Lawan politik tahu betul bahwa selama "Sihir Solo" ini masih bekerja, peta politik nasional tidak akan pernah benar-benar stabil bagi mereka. Jokowi adalah variabel yang merusak kalkulasi di atas kertas. Jokowi adalah ancaman nyata.

Ke mana Jokowi menunjuk, di situ rakyat berkumpul. Siapa yang Jokowi "restui", di situ elektabilitas meninggi. Maka, strategi paling logis bagi mereka adalah merusak reputasinya terlebih dahulu.

Sayangnya, mereka lupa satu hal bahwa rakyat kecil tidak butuh analisis metadata atau teori konspirasi yang rumit. Mereka hanya melihat hasil nyata yang mereka rasakan selama sepuluh tahun terakhir.

Dampak dari kekuatan "rakyat" ini terlihat jelas pada fenomena PSI, partai unyu-unyu yang belum terbukti keampuhannya. Partai yang dulu dianggap anak bawang, kini mendadak menjadi magnet bagi elit-elit politik.

Banyak tokoh yang mulai "merapat" dan mengenakan jaket Gajah itu. Mengapa? Karena mereka mencium bau kemenangan. Mereka tahu bahwa PSI sekarang adalah "kendaraan" yang mesinnya berbahan bakar pengaruh Jokowi.

Di tangan Jokowi, partai ini bukan lagi sekadar partai anak muda yang cerewet, tapi sudah menjelma menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan. Padahal sejatinya, Jokowi belum memproklamirkan diri sebagai bagian dari Gajah.

Itu sebabnya ada politikus bangkotan —sebagai kata penghalus untuk politikus senior berpengalaman— mencoba mencegah laju Gajah unyu-unyu dengan menaikkan Parliamentary Threshold 7%. Terlebih lagi dia marah campur dendam karena kadernya banyak yang loncat naik ke belalai.

"Kekuasaan yang didapat dari kursi jabatan bisa berakhir dalam lima atau sepuluh tahun," bisik tetangga di telinga. "Tapi kekuasaan yang tumbuh di hati rakyat, tidak punya masa kedaluwarsa. Itulah Jokowi."

Sepertinya, para pembenci bapak-anak ini harus mulai belajar satu hal penting, bahwa semakin Anda mencoba menjatuhkan seseorang yang sudah ada di hati rakyat, semakin tinggi rakyat mengangkatnya ke langit popularitas.

Sekarang Solo bukan lagi sekadar titik geografis, ia telah menjadi pusat gravitasi politik baru yang membuat Jakarta tampak sedikit "gerah", padahal sedang musim hujan parah.

Apakah fenomena kerumunan di Solo ini murni karena kerinduan rakyat kepada pemimpinnya atau rekayasa politik canggih Jokowi untuk menjaga namanya dan Gibran tetap berada di pusaran?

Jangan kura-kura dalam perahu, jawablah biar semua orang tahu.

Pepih Nugraha 

Putra Jokowi

Buka TikTok untuk menonton postingan @Gibran TV Mas Wapres dan Jan Ethes Jumat... https://vm.tiktok.com/ZS9eWVQtRB42b-dmCps/ Postingan ini dibagikan via TikTok Lite. Unduh TikTok Lite untuk menikmati postingan lainnya: https://www.tiktok.com/tiktoklite

Marco Rubio dan jkw

ANTARA MARCO RUBIO DAN JOKO WIDODO 

Oleh Supriyanto Martosuwito 

Satu pernyataan dari pejabat teras, mantan senator Amerika menjadi kontroversial, di hari hari ini:  "The only reason we're at war with Iran is because Israel forced our hand" yang artinya: "Satu-satunya alasan kita berperang dengan Iran adalah karena Israel memaksa kita."

Pernyataan yang disampaikan Marco Rubio, selaku Menteri Luar Negeri AS ke-72 itu mengirim pesan gamblang bahwa AS terlibat dalam perang dengan Iran bukan semata-mata karena kepentingan Amerika dan ancaman langsung Iran, melainkan karena kelakuan tengil "anak emas"nya, Israel -  yang membuat Amerika merasa terpaksa masuk ke pusaran konflik tersebut.

Kalimat jujur dan spontan dari mantan Senator Florida itu bukan sekadar pernyataan diplomatik. Ia terdengar seperti pengakuan yang terlalu lugu tentang bagaimana sebuah perang bisa terjadi: bukan semata karena ancaman langsung kepada satu negeri, melainkan karena tekanan aliansi.

Bagi para kritikus, frasa "forced our hand" mengandung makna politis yang dalam. Sungguh langka - dalam bahasa diplomasi - negara besar  mengakui bahwa mereka "terpaksa" bertindak karena ulah negara sekutunya. Biasanya, alasan yang dikemukakan untuk menyerang negara lain adalah "melindungi kepentingan nasional", "membela diri", atau "menjaga stabilitas kawasan". 

Pernyataan Marco Rubio, 54, memberi kesan bahwa keputusan Washington untuk terlibat dalam konflik dengan Iran karena eskalasi yang diciptakan oleh Israel.

Di sanalah kontroversinya.

Bagi pengamat hubungan Amerika Israel, khususnya di sini, pernyataan tersebut makin menegaskan asumsi dan perdebatan lama: seberapa independen kebijakan luar negeri Amerika dari sekutu strategisnya? 

Hubungan Washington – Tel Aviv memang telah lama bersifat istimewa, didasari kepentingan keamanan, politik domestik, hingga faktor historis.  Namun ketika seorang pejabat tinggi menyatakan bahwa perang terjadi karena sekutu "memaksa keadaan", publik pun bertanya: apakah ini perang pilihan atau perang kebutuhan?

Dari sudut pandang politik domestik Amerika, pernyataan Rubio juga tidak bisa dilepaskan dari konstelasi internal. Basis politik Partai Republik, partai dimana dia berpolitik -  secara tradisional kuat mendukung Israel. 

Dalam konteks itu, berdiri tegak di belakang Israel bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga soal konsolidasi politik dalam negeri. Namun justru di sinilah kritik mengeras: apakah kebijakan militer negara adidaya boleh dipengaruhi oleh tekanan aliansi dan kalkulasi politik domestik?

Jika AS menyerang karena memperkirakan Iran akan membalas tindakan Israel, maka serangan itu bukan respons atas serangan nyata, melainkan atas proyeksi kemungkinan. Dalam teori hubungan internasional, ini mendekati konsep "preventive war" - perang pencegahan. 

Sejarah menunjukkan bahwa perang jenis ini sering meninggalkan kontroversi panjang, terutama jika ancaman yang dijadikan dasar ternyata tidak sejelas yang diperkirakan.

BAGI pembaca Indonesia, perdebatan topik ini memiliki resonansi tersendiri. Sejak awal kemerdekaan, Indonesia menganut politik luar negeri "bebas aktif" - tidak terikat blok kekuatan besar mana pun, tetapi tetap aktif berkontribusi pada perdamaian dunia. 

Dalam berbagai kesempatan, termasuk pada masa Presiden Joko Widodo memerintah -  Indonesia berhasil menjaga keseimbangan dengan berbagai kekuatan global, bahkan ketika mereka saling berseberangan. Berkawan dekat dengan para pemimpin negara negara di belahan Benua Utara - juga berkarib dengan pemimpin negara negara di Benua Selatan

Di tengah rivalitas kekuatan besar, kemampuan menjaga jarak strategis sering kali menjadi aset berharga. Aliansi dapat memperkuat pertahanan, tetapi juga membawa risiko terseret dalam konflik yang bukan sepenuhnya kita pilih.

Kontroversi ucapan Rubio akhirnya bukan hanya tentang satu kalimat. Ia adalah refleksi tentang bagaimana keputusan perang diambil di era modern: di antara kalkulasi ancaman, tekanan aliansi, kepentingan domestik, dan persepsi publik global. 

Dan di situlah, bagi pembaca Indonesia, pelajaran geopolitik yang paling relevan mungkin justru terletak.
 
Bahwa untuk menjaga independensi, berjiwa non blok, memang memerlukan kelihaian politik tersendiri, dari sosok negarawan yang teruji dan tangguh. Bukan kaleng kaleng. 

***

PS:

Sedih mendengar penolakan Menlu Iran : "Jalur diplomasi sudah terlambat". 

Sedangkan dari pihak Israel:  "Sebaiknya Indonesia tidak terlibat terlalu dalam. Orang orang kami ada di dekat Anda!"

Minggu, 11 Januari 2026

Selamat hari kakek

*Selamat Hari Kakek Nenek Nasional (HKNN)* 

*Umur* 
*50 - 59 Pra Lansia*
*60 - 69 Lansia Muda,*
*70 - 79 Lansia Madya,* 
*80 - 89 Lansia Paripurna,*
*>90 th Paripurna Kencana.*

*Masing² dari kita tau berada di Kelompok Mana ...*

*30 Resep Sehat di Waktu Tidak Muda lagi.*

*1~ Tidurlah yang nyenyak.*
*2~ Gerakan pelan, tak usah tergesa².*
*3~ Porsi makan di kurangi.*
*4~ Makananlah bervariasi.*
*5~ Makanan yang hangat. ^Stop ES^.*
*6~ Minum Air putih yg banyak.*
*7~ Garam / Asin di kurangi.*
*8~ Makan malam lebih awal.*
*9~ Rajin Olah Raga ( yang ringan² saja ).*
*1O~ Lapangkan Hati dan tidak mudah tersinggung apalagi mudah Marah / Dendam.*
*11~  Merawat diri boleh bersolek.*
*12~ Banyak senyum.*
*13~ Lebih tau diri.*
*14~ Melupakan usia sebenarnya.*
*15~ Banyak bergaul / Silaturrahim.*
*16~ Lebih Romantis jangan Egois.*
*17~ Banyak hobi yang Positif saja.*
*18~ Jangan terlalu banyak mengejar nama dan keuntungan (bukan waktunya lagi)*
*19~ Sering Wisata / Wisata hati.*
*2O~ Jangan ikut campur masalah orang, jika tidak di Perlukan.*
*21~ Legowo (sekiranya ada masalah )*
*22~ Menikmati sisa hidup.*
*23~ Sering ber Syukur.*
*24~ Suka bercanda /berkelakar, tapi tidak menyinggung perasaan orang lain.*
*25~* *_Kalau jadi sasaran canda, tidak marah atau membalas, selalu Happy bersama._*
*26~ _Mudah memaafkan /  mengampuni, dan tidak segan minta ma'af bila bersalah._*
*27~ Jangan iri hati marah dengki.*
*28~ Disini senang disana senang.*
*29~ Beraktivitas apapun dgn kemampuan yg ada nikmati dengan rasa senang.*
*3O~ _Rajin ber Ibadah / ber Sedekah dan membantu mengasihi Saudara / Sahabat._*

*_SELAMAT  MENIKMATI HIDUP, LANSIA BERBAHAGIA, SEHAT, PANJANG USIA BERMANFA'AT BAGI SESAMA dan TANPA BEBAN._*

*_Be Happy Bapak /Ibu 🅰️Ⓜ️_*

Jumat, 23 Mei 2025

Another buss Ziarek

Otw Ziarek Senior Parsanbas

Para Senior Parsanbas,mendekati Umur 100 thn namun tetep gembira otw ziarek

Sabtu, 03 Mei 2025

Kemajuan Perawatan Rumah Sakit Di Cina

*MBG Rizhao*
DI's Way
3 Mei 2025
Jannet akhirnya bisa mendapatkan tiket kereta cepat di hari gawat menjelang libur panjang Hari Buruh: dari Shanghai ke Rizhao. Itu perjalanan empat jam.

Di tiket itu tertulis nomor perjalanannya ''D2162''. Huruf ''D'' di situ menunjukkan ini kereta cepat yang tidak terlalu cepat. Kecepatannya hanya sekitar 200 km/jam. Berbeda kalau huruf di depan nomor itu tertulis ''G''. Berarti kecepatan keretanya sampai 350 km/jam. Sama dengan Whoosh Jakarta-Bandung.

''D'' singkatan dari ''Dong'' (gerak maju). ''G'' singkatan dari ''Gao'' (tinggi, kecepatan tinggi).

Memang untuk jurusan antar kabupaten di kawasan ''kering'' tidak ada kereta ''G''. Termasuk jurusan Shanghai-Qingdao ini. Tidak akan melewati kota besar. Tiga kali berhenti tiga-tiganya kota kecil –kecil ukuran Tiongkok: Yancheng, Lianyungang, dan Rizhao. Ini mirip jalur Bandung-Tasik-Kroya-Kutoarjo-Yogyakarta.

Masih ada satu jenis kereta cepat lagi. Kode huruf depannya: C. Misal, C676. Itu berarti kereta cepat yang paling lambat: hanya berkecepatan 160 km/jam. Biasanya itu khusus jurusan antar kota dalam satu provinsi.

Sebenarnya kalau Jakarta-Surabaya bisa sama dengan yang C itu saja, sudah bisa empat jam perjalanan –dari sekarang delapan jam.

Berkat kegigihan Jannet saya bisa tiba di kota kecil Rizhao. Anda masih ingat Jannet: yang ikut saya keliling Amerika pakai mobil bersama suaminyi.

Saya heran: kenapa Indonesia mengirim dokter spesialis jantung sekolah konsultan di Rizhao. Setingkat Trenggalek untuk Jatim. Atau Lubuklinggau untuk Sumsel. Bukan ke Beijing, Shanghai, atau Guangzhou.

Meski ini kota kecil, ternyata RS Rizhao salah satu pusat penanganan jantung. Ini rumah sakit pendidikan untuk universitas kedokteran Qingdao. Ini RS swasta. Pendirinya ahli jantung terkemuka Tiongkok: Prof Ge Junbo. Ia ayatullah-nya jantung di Tiongkok.

Ahli jantungnya: 30 orang. Padahal jumlah tempat tidur pasiennya hanya 200. Itu pun tidak semua untuk jantung. Masih ada banyak departemen. Termasuk ortopedi. Ruang operasinya: lima teater.

Hari kedua di Rizhao saya makan siang dengan tim dokter dari ortopedi. Hadir juga investor rumah sakit ini: Steven Song, putra asli Rizhao, pengusaha besar, bukan dokter.

Tempat makannya sama dengan makan siang dengan tim ahli jantung di hari pertama: di kantin VIP rumah sakit itu.

Selesai makan siang saya kembali diajak keliling rumah sakit. Melihat fasilitas ruang operasi. Kebetulan lagi ada operasi untuk orang yang terkena stroke.

Saya lihat tiga MRI/CT-nya buatan Eropa. Tapi salah satunya sudah buatan Tiongkok sendiri. Mutunya masih kalah, tapi itu soal waktu. Generasi berikutnya sudah pasti lebih baik. Tiga tahun lagi Anda sudah akan bisa menjalani MRI made in China di Indonesia: pasti lebih murah. Dengan demikian, tidak lama lagi RSUD kabupaten pun akan bisa beli MRI –asal ahlinya segera ada.

Sang ayatullah kini lebih banyak di Beijing dan Shanghai. Tapi Dr Junbo putra daerah Rizhao. Orang tuanya masih di Rizhao. Karena itu ia ikut memimpin rumah sakit ini. Sesekali masih datang ke sini.

Saya diminta meninjau rumah sakit itu. Saya pun geleng kepala: di kabupaten sekecil ini punya RS sebagus itu. Saya berterima kasih dua ahli jantung Indonesia sudah boleh belajar jadi konsultan jantung di sini.

Dua dokter itu: dr Jagaddhito (Unair-UGM) dan dr Rachim Enoch (Unpad-Unpad). Jagaddhito putra mantan rektor ITS. Aktivis mahasiswa Surabaya. Rachim orang Singkawang.

Dua-duanya merasa beruntung sekolah satu tahun di Rizhao. Ini kota kecil tapi peralatan dan sistemnya modern. Biaya hidupnya juga murah. Temannya yang dapat sekolah di kota besar harus ''defisit''. Beasiswanya habis hanya untuk sewa apartemen.

Dari Jagaddhito saya tahu: di kota sekecil ini pun ada 20 mahasiswa dari Indonesia. Mereka kuliah e-commerce. Didominasi wanita. Beberapa di antaranya berjilbab. Salah satunya dari Banyuwangi. Dari Muncar. Ayahnyi sopir truk.

Saya ajak mereka makan malam. Mereka pilih di resto halal Xibei. Resto baru. Modern. Bersih. Sayang, nasinya sudah habis. Tinggal mie dan daging. Untung satenya masih banyak. Sate domba khas wilayah muslim di Barat Laut yang gurih.

Mereka lantas menawarkan saya ke pantai Wan Ping Kou (万平口). ''Gerbang Kedamaian Abadi''.  Pagi-pagi. Sebelum pukul lima: harus melihat matahari terbit.

Orang Rizhao terlalu bangga dengan matahari terbitnya. Mereka bilang, matahari bukan terbit dari timur, tapi dari Rizhao.

Benar. Indah sekali. Klaim itu tidak berlebihan.


Keindahan Pantai Wan Ping Kou, Rizhou, di pagi hari. -HARIAN DISWAY-

Setelah matahari meninggi kami duduk santai di pasir. Dialog pagi. Tentang apa saja: agama, komunisme, meritokrasi, pertumbuhan ekonomi (lihat Disway besok atau lusa).

Usai ''kuliah pantai'' saya ajak mereka makan pagi di hotel tempat saya bermalam: Xilaideng. Tanyalah ke perusuh Milwa, apa nama hotel itu kalau di Indonesia.

Kami sarapan besar di hotel bintang lima itu. Mereka lebih tahu Rizhao daripada saya. Mereka menemukan makanan khas daerah Rizhao. Ternyata hotel bintang lima ini menyediakan pula masakan lokal: 煎饼. Jian bing. Pancake. Lebih mirip burrito. Enak. Tambah-tambah.

Para mahasiswa itu bukan dari yayasan kami. Mereka lewat Yayasan Bina Anak Indonesia Kompeten (BAIK) bekerja sama dengan program Pijarnya Telkom. Pendiri Yayasan BAIK adalah Daniel Octavianus Atmaja, ketua Gema PSMTI --Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia-- Jatim.

Mereka campur: Tionghoa, Jawa, Manado, Batak, Melayu, Bali, Islam, Kristen, Hindu, Buddha, berjilbab, you can see, tampak rukun. Bersenda gurau.

Kini, di Rizhao, mereka punya 老大: dr Jagaddhito dan Rachim. Mereka seminggu sekali dapat perbaikan gizi --meski di Rizhao tidak ada MBG.(Dahlan Iskan)

Sabtu, 26 April 2025

Nasihat Paus Fransiskus

*PESAN DALAM PIDATO PAUS FRANSISKUS YANG MENGEJUTKAN DUNIA*

_Silakan simak pidato yang dibacakan oleh Paus._
_*--Apa pun agamanya,--* lihatlah bagaimana Paus Fransiskus menulis dengan indah tentang keluarga…_

*KELUARGA, TEMPAT PENGAMPUNAN* ...

©️ *Tidak ada keluarga yang sempurna*.

©️ *Kita tidak memiliki orang tua yang sempurna*,

- *Anda sendiri juga tidak sempurna*.

- ⁠*Kita tidak menikah dengan orang yang sempurna atau kita tidak memiliki anak yang sempurna*.

©️ *Kita saling mengeluh. Kita tidak dapat hidup bersama tanpa saling menyinggung*.

©️ *Kita terus-menerus kecewa. Ya, karena banyak alasan di waktu yang berbeda kita dikecewakan satu sama lain*.

©️ *Tidak ada pernikahan yang sehat atau keluarga yang sehat tanpa adanya pengampunan. Pengampunan adalah obat bagi kegembiraan dan kebahagiaan keluarga*.

©️ *Pengampunan sangat penting bagi kesehatan emosional dan kelangsungan hidup spiritual kita. Tidak peduli pelanggarannya atau siapa pelakunya.* *Tanpa pengampunan, keluarga menjadi arena konflik dan benteng kejahatan*.

©️ *Tanpa pengampunan, keluarga menjadi sakit dan tidak sehat*.

©️ *Pengampunan adalah asepsis jiwa, pemurnian roh dan pembebasan hati. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni*.
*Dia yang tidak memaafkan tidak memiliki kedamaian dalam jiwanya dan tidak dapat bersekutu dengan Tuhan*.

©️ *Tidak memaafkan adalah Kejahatan dan racun yang memabukkan dan membunuh orang yang menolak untuk memaafkan*.

©️ *Menyimpan sakit hati karena tidak memaafkan di dalam hati Anda adalah tindakan yang merusak diri sendiri. Itu adalah autophagy*.

©️ *Mereka yang tidak memaafkan sakit secara fisik, emosional dan spiritual. Dan mereka akan menderita dalam dua cara*.

• *Karena alasan ini, keluarga harus menjadi tempat kehidupan dan bukan tempat kematian; tempat pengampunan, tempat surga dan bukan tempat neraka; Wilayah penyembuhan dan bukan penyakit; magang tentang pengampunan dan bukan rasa bersalah*.

• ⁠*Pengampunan mendatangkan sukacita di mana kesedihan mendatangkan kesedihan; tentang Penyembuhan di mana kesedihan menimbulkan penyakit*.

*Keluarga adalah tempat dukungan dan bukan tempat gosip dan fitnah satu sama lain. Itu harus menjadi tempat penerimaan bukan tempat penolakan. Malu bagi mereka yang menanam kejahatan tentang orang lain. Kita adalah keluarga dan bukan musuh*.

*Ketika seseorang menghadapi tantangan, yang mereka butuhkan hanyalah dukungan*.

*¤ Oleh Paus Fransiskus*

*Silakan kirim ke semua keluarga yang Anda kenal. Ini dapat membantu menyembuhkan beberapa luka keluarga dan menyelesaikan beberapa pertempuran !*

*-HIDUP & BIARKAN HIDUP* 🙏 🙏🙏🏻🙏🏻🙏🏻

*RIP POPE FRANSISKUS*
*21 April 2025*

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India